Tidak Mau Jadi Peminta, Kakek ini Jualan Mainan Keliling Setiap Hari

oleh
Kek Balon penjual mainan
Kek Balon penjual mainan

BINJAI – Dengan keadaan kaki yang tidak sepenuhnya bisa ia topang, Kek Balon (73) terus mendorong sepeda joder tuanya yang berisikan balon-balon warna warni dan mainan mengeliling kota Binjai tiap harinya. Seakan tidak ada yang aneh dengannya saat ia mendorong sepeda yang penuh dengan mainan itu.

Tepat depan SPBU di Jalan Jamin Ginting, ia pun menghentikan langkahnya dan mencoba mencagakkan  sepedanya tersebut. Tampak ia kesulitan mencagakkan sepeda jonder tuanya tersebut. Setelah berhasil, ia pun langsung mengambil sebuah tongkat yang diletakkan disepedanya. Tongkat tersebut ternyata, ia gunakan sebagai penopang badannya karena kaki sebelah kirinya tidak berfungsi dengan baik.

Kek balon bukan nama sebenarnya, kakek berusia 73 tahun tersebut bernama Usman dan tinggal di Jalan Ismail di  Tanjung Jati kec Binjai Barat bersama istri dia yang kedua. Saat dihampiri, kakek tersebut pun langsung mengeluarkan senyumnya dan menawarkan mainan yang ia jual.

Aku pun langsung berbincang, kepada kakek yang sudah nikah dua kali tersebut dan tidak jugadikarunia anak. Istri pertamanya, sudah lama meninggal dan tidak punya anak. Karena tidak  tahan hidup sendiri, ia pun kembali menikah sembari berharap mempunyai keturunan. Sayangnya kembali dipernikahan keduanya tersebut ia pun sampai saat ini belum diberi kesempatan untuk mempunyai anak sampai usianya seperti saat ini.

Ia menceritakan,  pertama kali menginjakkan kakinya dari Jawa Tengah ke Binjai pada tahun 1950 an dan pada tahun 1965 baru mulai berjualan maian. Sampai saat ini, ia pun kerap berpindah-pindah tempat tinggal karena ia tidak mempunyai rumah.

“Ngak punya rumah saya nak, untuk tempat tinggal selama ini dibantu sama bos (toke mainan yang ia bawa) ngontrakkan rumah,” ucapnya.

Untung saja toke maianannya tersebut, berbaik hati kepadanya. Toke maian tersebut pun setiap tahun membayar kontrakkan untuknya. Meskipun begitu, kontrakkan yang ia tinggalin tersebut, tidak pula gratis.

Setiap harinya, uang yang ia dapat dari jualannya setiap hari keuntungannya dipotong sama tokenya tersebut, mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu perhari tergantung uang hasil penjualan mainannya tersebut.

“uang sewa kakek kan sekuitar Rp 3 Juta pertahun, setiap hari uang hasil jualan itu dipotong seberapa banyak lakunya,” jelasnya

Ia pun mengaku setiap harinya, ada saja dagangannya tersebut laku dan terkadang  bisa habis semua.  Meski tidak mempunyai keturunan sampai saat ini, namun ia masih mempunyai tanggungan untuk hidup, untuk biaya sehari-hari dan uang belanjanya.

“Ngak apa-apalah nak berjualan, yang penting tidak meminta-minta. Selagi masih bisa berusaha ya saya usahakan dan tidak menyusahkan orang lain,” jelasnya

Selama ia berjualan, sampai saat ini tidak pernah ada ia jumpai pembeli yang nakal. Saat asik berbincang, tampak kek balonmenahan perih. Ia pun menceritakan keadaan kakinya yang kerap sakit.

“Cemana lah nak,  namanya sudah kakek-kakek dan sudah tua. Ini kaki kakek, memang sering sakit dan sudah sering dibawa berobat ke puskesmas, katanya ada yang terjepit (saraf),” ucapnya yang mengaku sampai saat ini, ia tidak juga mempunyai KTP atau KK.

Tak lama berbincang didepan sepedanya, ia pun permisi untuk duduk ke kedai kopi pinggir jalan yang tak jauh dari ia memangkalkan dagangannya. Tampak ia berjalan sedikit pincang dengan pandu tongkat yang ia pegang disebelah tangan kanannya.