Metro

Pakai Baju Palu Arit di Kualanamu, Wanita ini diamankan Polres Deliserdang

Noverlina br Sembiring saat diamankan karena pakai baju berlambang palu arit di bandara Kuala Namu

MEDAN- Tim Pam mou Bandara Kualanamu Polres Deliserdang mengamankan seororang wanita sebagai pengunjung atau pengantar yang menggunakan kaos oblong berlambang palu arit, Rabu (18/1/2017) sekira pukul 13.30

Dari pemeriksaanpihak kepolsian, wanita tersebut bernama Noventaria Olivia br Sembiring (33) warga  Dusun I Desa Sarilaba Kec Sibiru-biru Kab Deli Serdang. Penangkapan terhadap wanita yang sehari-hari bekerja sebagai petani tersebut  pertama kali dilihat  oleh personil Polres Deli Serdang Heri Perangin-angin  dan Ardi selaku Pam MoU Bandara KNIA.

Saat itu kedua personil tersebut, melihat Noventaria dengan menggunakan baju kaos berlogo atribut komunis berupa gambar palu dan arit di Area depan Restorant Ayam Kalasan Lantai II Terminal Keberangkatan Bandara Kualanamu.

Melihat hal itu, kedua personil tersebut langsung mengamankan dan memboyong Noventaria Olivia bersama degan pihak keluarga pelaku menuju ke Posko Security Bandara PT Angkasa Pura II KNIA di Lantai II Terminal Keberangkatan guna dilakukan interograsi wal.

Dari hasil interograsi terhadap pelaku Noventaria, kedatangan ia bersama keluarga ke Bandara Kualanamu bersama degan pihak keluarga dengan tujuan mengantar anak pamannya  yang akan berangkat menuju Batam dengan menggunakan pesawat Citilink. Dimana rombongan keluarga tersebut terdiri dari Indora Ursula Sembiring (40) yang merupakan kakak kandungnya, Bartolomeuos Sembiring (40) yang merupakan abang kandungnya dan juga ibu pelaku Mak Lopi.

Berdasarkan keterangan  Noventaria, ia mengaku baju kaos  yang dipakainya tersebut diperoleh pelaku dari kakak kandungnya Ursula Sembiring pagi tadi sekira pukul 08.00 pagi. Dengan alasan jalan-jalan dan tidak mempunyai baju yang pantas, ia langsung meminjam baju tersebut.

“Ngak tahu aku apa (maksud Logo palu arit) baju ini. Ku pinjam dari  kakak ku,” ucapnya

Sementara itu hasil keterangan dari Indora menjalaskan bahwa baju kaos berlambang palu arit tersebut merupakan baju bekas/monza yang diberikan oleh tetangganya  Mutiara br Tarigan, sama seperti keterangan  Noventatia, ia juga tidak mengerti arti gambar ataupun logo palu dan arit tersebut.

Selanjutnya, pelaku sekira pkl 13.20 diboyong oleh Kanit IV Sat Intelkam Polres Deli Serdang, Aiptu Diman Purba ke Mapolres Deli Serdang guna dilakukan proses interograsi terhadap pelaku. (mag)

7 Comments

7 Comments

  1. Erpin

    2 February 2017 at 05:20

    Anti komunis, gak sudi pakai atribut komunis..najisss. Silahkan kasih nilai sendiri!!!

  2. Hồng Việt

    3 February 2017 at 10:38

    50 years since the Indonesian military launched one of the twentieth century’s worst mass murders. Yet the anniversary passed almost unnoticed. The massacre of some 500,000 members or sympathizers of the Indonesian Communist Party (PKI) during 1965-1966 is the least talked-about genocide of the last century.
    Lifting the veil on the bloodbath is long overdue, but those with a past to hide seem bound to resist this. Organizers of Bali’s renowned Ubud Writers and Readers Festival have just had a foretaste of what may be a new round of active censorship, with local officials threatening to cancel the entire festival if proposed panel discussions of the massacres went ahead.
    The killings started in October 1965 in the aftermath of an abortive coup allegedly planned by the PKI. The military reacted by portraying the party and its supporters as an atheist force of evil which had to be annihilated. The resulting carnage was deliberate, systematic, and spanned the country, with the most horrific and intense violence in Central and East Java, Bali, and northern Sumatra.
    This year also marks the centenary of the Armenian genocide, about which successive Turkish governments have maintained an indefensible denial. But at least the fate of the more than one million Turkish Armenians killed outright or death-marched into the Syrian desert in 1915 for their wartime “disloyalty” remains the subject of immense international scrutiny, research, and advocacy.

  3. Win

    4 February 2017 at 03:04

    Sangat aneh orang KLO di tanya kok gak tau lambang palu arit yg SDH jelas merupakan lambang Komunis PKI, jgn sekali sekali di biarkan PKI berkembang di Indonesia

  4. Suarakita

    4 February 2017 at 04:00

    Hampir semuanya yg ketangkap pakai baju palu arit tidak tahu lambang simbol itu. Apakah sudah lupa pelajaran aejarah mereka
    http://suarakita.co.id/2017/02/03/palu-arit-tren-atau-sebuah-ideologi-yang-ingin-bangkit/

  5. sewa mobil jogja

    5 February 2017 at 19:16

    kok bisa ga tau ya lambang palu arit, pdhl itu yg pakai orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top