Kriminal

Kuasa Hukum Sebut Raja Tak Terlibat Dalam Pembunuhan Kuna

TKP Penembakkan Pengusaha Soft Gun

Medan –  Terduga otak pelaku pembunuhan terhadap Kuna,43, yang tewas ditembak  di depan toko soft gun dan senapan angin milik korban di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, yakni Raja hingga kini masih ditahan petugas Sat Reskrim Polrestabes Medan.

Bahkan, penahanan tersebut dinilai terkesan dipaksakan, sebab hingga kini polisi diduga belum mampu mendapatkan bukti -bukti  yang kuat atas perencanaan pembunuhan tersebut.

Oleh karenanya, Tim kuasa hukum, Raja mengaku dalam waktu dekat ini akan mengambil langkah Prapid hingga sampai dengan melaporkan kasus tewasnya Rawi ditangan polisi kepada Kompolnas dan Komnas HAM.

“Mereka minta perpanjangan tahanan untuk pemeriksaan sampai 20 hari. Sampai saat ini, gak ada bukti kuat polisi menetapkan Raja sebagai tersangka atau otak pembunuhan Kuna. Makanya, dalam waktu dekat ini, saya akan lapor ke Kompolnas dan Komnas HAM. Saya juga akan prapidkan polisi. Kita tunggu aja nanti,” sebut, salah satu tim kuasa hukum Raja, Julheri  Sinaga, SH saat ditemui di Polrestabes Medan,

Ditambahkannya lagi, jika kedatangannya ke Polrestabes Medan, untuk mendampingi kliennya, Raja. Namun sayangnya,  ia tidak diperbolehkan penyidik walaupun  sudah memohon kepada Kasat Reskrim Polrestabes Medan maupun Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Sandi Nugroho.

“Padahal sudah diatur dalam KUHAP kalau kuasa hukum kapan saja boleh menemani kliennya, tapi mereka gak mengizinkan saya untuk bertemu dengan klien saya. Katanya negara hukum, tapi kok begini,” keluhnya.

Selain itu, ia juga menyebut jika kedatangannya guna meminta polisi agar menyetujui permintaan keluarga Raja untuk dibantarkan, lantaran Raja mengalami sakit jantung Kroner dan gula.

“Rencananya kita mau buat permohonan agar Raja dibantarkan ke Rumah Sakit. karena memang sejak lama klien kita mengidap penyakit Jantung Kroner dan gula. Pihak Polrestabes Medan berharap agar si Raja mengaku, makanya dibilang tidak kooperatif. Gimana mau ngaku kalau tidak melakukan. Jadi mereka salah, pengakuan dalam pidana itu tak perlu. Lain kalau masalah perdata,” jelasnya.

Lagi-lagi ia menyebut kalau polisi tak ada bukti menangkap si Raja. Kalaupun ada komunikasi anyara si Raja dengan si Rawi dari rekaman, hanya si Rawi menelepon dan memberitahukan kalau si Kuna sudah ditembak orang.

“Jadi, pikiran polisi berarti si Raja pelakunya. Mana bisa. Disitu, si Rawi hanya memberitahukan saja, kalau si Kuna mati ditembak orang. Makanya jangan hanya berpatokan menunggu pengakuan Raja. Carilah saksi, yang melihat yang mendengar atau saksi kunci lainnya,” imbuhnya.

Bahkan, sambung Sekjen LBH IPK Kota Medan ini, kalau polisi hingga saat ini belum ada melakukan konfrontir dan menjumpakan Raja dengan pelaku lainnya termaksud para saksi seperti yang diutarakan Kapolrestabes Medan beberapa hari lalu.

Julheri Sinaga juga mengatakan jika Raja hanya mengenal Rawi yang ditembak mati polisi serta Ayen, anak buah Rawi. Perkenalan atas ketiganya sudah berlangsung lama.

Dimana keduanya dipercaya Raja untuk mengelola persatuan umat Hindu dan cafe milik Raja di Jalan Abdullah Lubis, Medan.

” Raja hanya kenal dengan Rawi dan Ayen. Kalau sama Ayen itupun hanya beberapa kali,” sebutnya.

Keterlibatan Ayen dalam aksi pembunuhan Kuna yang dilakukan Rawi Cs juga terpaksa dan tak terencana. Hal itu dikatakan Julheri, ketika Rawi melaksanakan eksekusi Kuna, Rawi menelepon Ayen. Disitu Ayen disuruh datang menjumpai Rawi. Rawi mengambil bungkusan dan diserahkan ke Ayen.

“Terus si Rawi menelepon lagi, dan mengatakan kalau bungkusan berisi 3 pucuk senjata api itu harus diamankan dan sembari mengancam dengan perkataan, “Yen, kau amankan ya bungkusan itu, jangan main-main kau. Aku kenal semua sama anak dan istrimu. Karena terancam, Ayen mau dan juga dia nurut untuk mengecat warna hitam kereta yang dibawa untuk mengeksekusi si Kuna,” bebernya.

Mengenai bukti transfer sejumlah uang yang disinyalir sebagai aliran dana dari upah membunuh Kuna, Julheri juga membantahnya. Ia menuturkan jika bukti transfer Rp 25 juta memang ada, diberikan si Darma, salah satu pengurus Parisada. Uang tersebut diberikan kepada Darma yang juga selaku Kepling setempat, untuk kepentingan bangunan Kuil dari Parisada yang diketuai Raja.

“Mereka terlalu gegabah. Mereka menuduh si Raja dalang pembunuhan itu tapi buktinya tak ada. Rawi yang seharusnya otak pelakunya, tapi ngapain ditembak mati. Kalau si Rawi memang pernah ngasih uang Rp 19 juta, tapi itu buat uang tahun baru karena si Rawi istrinya orang batak dan dia anggota si Raja. Lagian uang itu diberikan secara kontan,” tururnya.

Sementara itu secara terpisah,  penyidik Sat Reskrim Polrestabes Medan memanggil Kawijah,42, isteri dari mendiang Indra Gunawan alias Kuna  untuk melengkapi berkas acara pemeriksaan kasus  penembakan tersebut.

Pantauan di Sat Reskrim Polrestabes Medan, Kawijah datang bersama anak dan tim kuasa hukumnya. Dengan mengenakan kaos berwarna merah, setibanya di parkiran Kawijah langsung menuju ruang penyidik Sat Reskrim Polrestabes Medan di lantai II.

“Ya kedatangan saya kemari untuk melengkapi berkas,” terang Kawijah saat disambangi wartawan.

Disinggung mengenai pemeriksaan lainnya, Kawijah mengaku belum mengetahuinya.

“Belum tau saya. Inilah memenuhi panggilan polisi,” ujar sembari meninggalkan wartawan yang terlihat membawa beberapa berkas penting. (plz)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top