Ekbis

Penjualan Tarif Pulsa, Penyumbang terbesar Inflasi di Siantar

Rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Jumat pagi (17/2) di Lantai 3 Aula BI Jalan Adam Malik, Pematangsiantar
Rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Jumat pagi (17/2) di Lantai 3 Aula BI Jalan Adam Malik, Pematangsiantar

Siantar- Bank Indonesia perwakilan Pematangsiantar mencatat , inflasi Kota Pematangsiantar pada periode Januari 2017tercatat meningkat menjadi 0,72% (mtm) atau 5,05% (yoy).   Hal tersebut memperhatikan pola historis dan perkembangan harga, tekanan inflasi Februari ini diperkirakan lebih rendah dibanding Januari.

Hal tersebut diucapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (Kaper BI) Pematangsiantar, Elly Tjan pada Rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Jumat pagi (17/2) di Lantai 3 Aula BI Jalan Adam Malik, Pematangsiantar.

Masih katanya, melemahnya kondisi perekonomian global harus diakui berdampak terhadap ekonomi dalam negeri Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan politik luar negeri, ekonomi dan fiskal Presiden Amerika Serikat yang kontroversial.

Oleh karena itu, pihaknya yang ada di daerah juga harus siap mengantisipasi tantangan ekonomi yang makin berat tersebut. Caranya, dengan membangun sinergitas dan soliditas antar lembaga serta saling tukar informasi untuk kepentingan bersama.

Elly Tjan mengingatkan, salah satu aktivitas ekonomi di wilayah Siantar yang juga patut diawasi dan berkaitan dengan ekonomi global adalah Kegiatan Usaha Perdagangan Valuta Asing (KUPVA) yang ilegal.

“Kerap kali, KUPVA dijadikan alat money loundry serta transaksi narkoba. Jelas-jelas ini bisa mengganggu transaksi keuangan perbankan kita, karenanya mari kita awasi bersama,”katanya.

Masih kata Elly, peningkatan tekanan inflasi juga terjadi di Sumatera Utara dan secara nasional. Laju inflasi Pematangsiantar pada periode Januari disumbang oleh peningkatan harga pada kelompok inti dan kelompok barang yang diatur pemerintah (administered prices).

Peningkatan harga pada komoditas inti menyumbang terbesar pada inflasi Januari. Inflasi kelompok inti terutama disumbang kenaikan tarif pulsa ponsel 3,20  persen (mtm), emas perhiasan 4,21 persen (mtm) dan ikan teri 3,34 persen (mtm). Tarif pulsa ponsel terpantau mengalami kenaikan sejak September 2016. Kondisi tersebut sejalan dengan peningkatan komoditas emas global yang mencapai 3,65 persen.

Tekanan inflasi kelompok barang yang diatur pemerintah (administerd prices)meningkat disebabkan penyesuaian tarif listrik,  peningkatan biaya perpanjangan STNK dan bensin.Tarif listrik meningkat 8,65 persen (mtm) dan menjadi komoditas utama penyumbang inflasi, dengan andil 0,192 persen (mtm).Kondisitersebutsejalandengankebijakanpemerintah melakukan penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan 900VA nonsubsidi.Biaya perpanjangan STNK inflasi 108,98% (mtm) sebagai dampak PP No.60 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas PNBP.

Hasil Survey Pemantauan Harga (SPH) hingga minggu I periode Februari 2017 menunjukkan terjadinya peningkatan harga pada komoditas sayur-sayuran (bayam, kangkung, kacang panjang sawi hijau).Penurunan harga terjadi pada sebagian komoditas pasca berakhirnya faktor musiman.

Penurunan harga pada beberapa komoditas periode Januari tercatat sebagai penyumbang inflasi, diantaranya daging ayam ras, tomat buah dan dencis. Penurunan harga juga masih berlanjut pada beberapa komoditas bumbu-bumbuan seperti cabai merah dan bawang merah.

Saat dialog yang dipandu Asisten Bidang Perekonomian Pemko Pematangsiantar, Drs. Pardamean Silaen,M.Si, Plt.Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian, Ir.Robert Pangaribuan,MP mengeluhkan banyaknya saluran irigasi yang rusak di Pematangsiantar.

Apalagi, sebagian besar irigasi tersebut dikelola Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Sumatera Utara. Sementara pihaknya diberi target memperkuat pasokan beras dengan menyiapkan lahan 12.000 hektar (3 x musim tanam) tahun 2017 ini.

“Target ini tentunya sulit kami capai, dengan kondisi saluran irigasi yang rusak tersebut. Namun begitu, kita sudah siapkan benih (padi) bersubsidi dengan harga Rp2.500/Kg (dipasaran Rp15.000/Kg) guna membantu para petani yang sebagian besar sudah disalurkan. Selebihnya, kita juga terus memantapkan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KPRL) yang memanfaatkan pekarangan, guna penyediaan tanaman sayuran,”katanya.

Dalam Rapat bulan ini, tampak juga hadir Plt.Kadis Koperasi, UKM dan Perdagangan diwakili Drs.Kodir Siregar, Plt.Kadis Perhubungan diwakili Budi Nasution,SH, Plt.Kabag Perekonomian, AndriSE, Plt.Kabag Humas Jalatua Hasugian, serta perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS). (sin).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top