Kenali Gejala  ANJ, Tumur yang Biasa Menyerang Remaja Pubertas

oleh
Angiofibroma Nasopharing Juvenil (ANJ)
Angiofibroma Nasopharing Juvenil (ANJ)

Suarakita.co.id – Angiofibroma Nasopharing Juvenil (ANJ) adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang cenderung menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas dan remaja. Umumnya terdapat pada rentang usia 9 sampai 19 tahun dengan insidens terbanyak terjadi pada usia 15 tahun dan jarang pada usia diatas 25 tahun.

Tumor ini merupakan tumor jinak nasopharing terbanyak , mewakili 0.05% sampai 0.5% dari seluruh tumor kepala dan leher.

Angiofibroma nasopharing merupakan tumor yang relatif jarang ditemukan. Tumor ini secara histopatologis merupakan tumor jinak, tetapi secara klinis bersifat destruktif.

Tumor ini tumbuh relatif cepat dan dapat mendestruksi tulang disekitarnya dan dapat meluas ke sinus paranasal, fossa pterigomaksila, fossa infratemporal, fossa temporal, pipi, orbita, dasar tengkorak dan rongga intrakranial.  Perluasan ke intrakranial 10-30 % dari semua kasus dengan bagian yang sering dikenai adalah kelenjar hipofise, fossa cranii anterior dan media.

Keluhan paling sering dijumpai adalah hidung tersumbat yang bersifat progresif, epistaksis berulang dan rhinore kronik. Epistaksis biasanya hebat dan jarang berhenti spontan. Keluhan lain berupa rhinolalia, anosmia, sefalgia, tuli konduktif, deformitas wajah, proptosis dan diplopia, dengan atau tanpa defek visual. Sumbatan ostium sinus dapat menyebabkan sinusitis. Perluasan tumor ke oropharing menimbulkan disfagia dan dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas.

Bila tumor masuk ke dalam fisura orbitalis superior timbul proptosis, dan dapat disertai gangguan visul serta deformitas pada wajah. Dari nosopharing tumor dapat meluas ke fossa pterigopalatina, lalu ke fossa infra temporal, kemudian menyelusuri rahang atas bagian belakang dan terus masuk ke jaringan lunak antara otot masetter dan businator. Hal ini akan menimbulkan pembengkakan pipi dan trismus. Perluasan tumor ke rongga intrakranial akan menimbulkan gejala neurologis.

Pemeriksaan histopatologis secara makroskopis merupakan tumor dengan konsistensi keras, warna bervariasi dari abu-abu sampai merah muda. Terdapat banyak pembuluh darah pada mukosa, dan tak jarang dijumpai ulserasi.