Regional

Sudah Jadi Korban Pemerkosaan, Siswi Siantar ini disuruh Pindah Sekolah

Kompas Perlindungan Anak saat mendatangi pihak SMA Kampus Nommensen
Kompas Perlindungan Anak saat mendatangi pihak SMA Kampus Nommensen

Siantar – Pihak SMA Kampus Nommensen didatangi Komnas Perlindungan Anak, lantaran disebut-sebut telah menolak sepihak seorang siswi berinisial FHG yang menjadi korban asusila. FHG bersama ibunya belum lama ini diminta segera pindah sekolah tanpa ada konseling dan musyawarah kedua belah pihak.

Kepala Sekolah Surtan Simarmata tak menampik pihaknya meminta siswi tersebut untuk segera pindah. Kebijakan ini disebut Surtan lantaran khawatir akan berpengaruh terhadap nama baik sekolah dan mental FHG di lingkungan sekolah.

“Kami tidak ada memecat. Kami menyarankan agar FHG pindah dari sekolah ini, karena ini menjaga nama baik sekolah. Saya siap kali kalau ada masukan dari orang Komnas ini untuk meminta pertimbangan ke pihak yayasan,” kata Surtan Simarmata kepada wartawan di ruangannya, Senin (6/3/2017)

Surtan juga mengakui ada komersialisasi pendidikan dan kompetisi perekrutan siswa menjelang Tahun Ajaran baru. Dirinya tak menampik adanya kompetisi tersebut saat ditanyai lebih dalam terkait kebijakan yang terlalu terburu-buru menolak FHG melanjutkan pendidikannya di SMA Kampus Nommennsen, dibanding mengupayakan konseling dengan pihak orangtua siswi terlebih dahulu.

“Karena beda kan sekolah swasta dan negeri. Ada kompetisi penerimaan mahasiswa baru. Guru-guru aja sampai ke daerah-daerah mencaro siswa. Gitu kalau di swasta. Gaji guru aja dari jumlah siswa. Jadi mungkin gak kalau muridnya cuma tiga orang, gaji guru dari mana,” bebernya sembari mengakui selama ini ada Dana Bos ada dari pemerintah.

Sebelumnya, Kunjungan ini dilakukan lantaran FHG (15) siswi kelas 1 SMA Kampus Nommensen ditolak sepihak oleh pihak sekolah. Informasi itu diketahui dari Tiurma Nainggolan, ibunda FHG yang kecewa atas sikap intansi pendidikan, sehingga menyampaikannya kepada sejumlah wartawan, Jumat (3/3/2017).

Tiurma mengatakan, ia bersama anaknya (FHG) pada Rabu (1/3/2017) lalu datang ke SMA Kampus hendak bersekolah. Namun sampai di sekolah, FHG malah diminta segera pindah oleh Guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), bernama T boru Siahaan. Alasannya, kepala sekolah merasa keberatan karena FHG sudah membuat aib di sekolah tersebut.

“Waktu itu kami sama anakku ke sekolah. Tapi kepala sekolahnya tidak ngasih anakku ini sekolah di situ, lantaran kepala sekolahnya malu. Disuruhnya anakku pindah dari sekolah itu,” ujar Tiurma.

Kasus ini berawal setelah diberitakan, F sempat dilarikan sopir angkot CV Ria Jaya selama satu minggu. Dia mengakui sudah dua kali dicabuli sopir angkot bernama Dedi Manalu di Penginapan Pulo Kumba, Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Nagapita, Kecamatan Siantar Martoba. Setelah dilakukan pencarian, F akhirnya ditemukan Minggu (26/2) di simpang Pulo Kumba tempatnya di warung miso. Setelah itu, orang tuanya langsung membawa korban ke Polres Siantar untuk membuat laporan. Kemudian, Selasa (28/2/2017) lalu, Dedi Manalu yang sempat kabur, akhirnya ditangkap Polres Siantar di Penginapan Pulo Kumba. (si)

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Arist Merdeka Sebut Kepsek SMA Kampus Nomensen Bisa Dipidanakan – Suara Kita

  2. Pingback: Komnas PA Pinta Sekolah Untuk tidak Memindahkan FHG – Suara Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top