Metro

Netizen Indonesia, Kurang dalam Isu Kesetaraan Perempuan

Suarakita.co.id – Untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2017, kelompok gabungan Women’s March diantaranya yang berada di Amerika dan Indonesia, melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut hak-hak mereka yang belum terpenuhi.

Di Amerika, Women’s March melakukan gerakan Day Without A Woman (Hari Tanpa Wanita) yang diberi tagar #DayWithoutAWoman. Dalam aksi ini para wanita diajak untuk mengambil cuti, berhenti belanja (kecuali pada toko kecil dan toko milik kaum minoritas), serta memakai pakaian merah untuk menyimbolkan keberanian. Animo masyarakat yang berbasis di Amerika terhadap aksi inipun sangat luar biasa. Beberapa sekolah diliburkan karena guru-guru dan murid-murid kompak mengambil cuti untuk bisa turut berpartisipasi pada aksi yang jatuh pada hari Rabu ini.

Sedangkan di Indonesia unjuk rasa dilakukan terlebih dahulu pada Sabtu 4 Maret 2017. Sekitar 700 peserta aksi berjalan kaki dengan rute Sarinah – Monumen Nasional sambil mengangkat poster warna-warni yang memampang tuntutan, persoalan, serta beragam kalimat motivasi untuk memperlihatkannya pada khalayak.

Melihat reaksi masif di lapangan untuk kedua aksi ini, Isentia sebuah perusahaan media monitoring yang berasal dari Australia melakukan monitoring untuk mengetahui bagaimana tanggapan netizen dalam kurun waktu 3 – 9 Maret 2017. Pemantauan di lakukan melalui beragam saluran media sosial seperti Twitter, Facebook, blog, portal berita yang memiliki kolom komentar, hingga forum online di masing-masing negara.

Pada Women’s March di Amerika, Isentia memonitoring khususnya pada topik Day Without A Woman, dan menemukan total buzz berjumlah 201.577. Sedang di Indonesia, fokus khususnya pada tajuk Women’s March Jakarta menghasilkan total buzz berjumlah 3.337.

Lonjakan percakapan yang signifikan terjadi pada saat aksi dimulai. Di Amerika, pembicaraan mengenai aksi ini mulai beranjak dari 3.760 buzz pada H-1 aksi dimulai, melonjak menjadi 117.947 buzz pada pada hari H. Sedangkan di Indonesia, percakapan sebelumnya berjumlah 336 buzz, meningkat menjadi 2.029 buzz pada saat aksi dilaksanakan.

 

Dari total buzz yang didapat dari kedua negara, microblog Twitter menjadi platform dengan kontribusi tertinggi yang digunakan netizen untuk melakukan percakapan terkait aksi ini dengan total presentasi untuk Women’s March Amerika sebasar 99,94% dan Women’s March Indonesia sebesar 99,88%. Diikuti sisanya berasal dari portal jaringan sosial yang didominasi oleh Facebook. Di Amerika, portal berita dan forum online juga melakukan percakapan terkait aksi Day Without A Woman ini.

Hari Perempuan Internasional sendiri adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap perjuangan kaum perempuan untuk menyelamatkan hak-haknya. Hari Perempuan Internasional pertama kali diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 1977.

Pada Januari 2017, sebuah gerakan dengan nama Women’s March terbentuk sebagai bentuk protes atas opresi Trump terhadap kaum perempuan. Gerakan ini menimbulkan gelombang besar pada seluruh perempuan di berbagai belahan dunia dan melahirkan gerakan-gerakan lain sebagai aksi saudara (sister’s march) untuk menyuarakan protes terhadap kesejahteraan perempuan.

Melihat perbandingan jumlah buzz yang didapat, dapat disimpulkan bahwa tanggapan netizen Indonesia terhadap isu kesetaraan perempuan masih terbilang kurang. Namun, dengan adanya gerakan ini dunia maya ataupun aksi di lapangan, diharapkan bisa menjadi salah satu cara untuk mensosialisasikan pentingnya peran perempuan. Dengan memahami nilai-nilai tersebut, akan lebih mudah untuk dapat lebih menghargai segala macam bentuk perbedaan yang ada disekeliling kita. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top