Regional

Pemkab Batubara Belum Serius kelola Situs Cagar Budaya

bunker jepang di Batubara

Batubara- Minimnya perhatian pemerintah daerah Batubara atas upaya pemugaran dan pelestarian pada benda dan bangunan situs bersejarah dalam kaitan Cagar Budaya nampaknya menjadi perhatian serius sejumlah kalangan.

Alasan belum adanya serah terima pihak dari keluarga keturunan dianggap tidak mendasar, dan cenderung pemda tidak mau ambil ‘pusing’ atas tata kelolanya.

Sekretris Dewan Kesenian Batubara (DKB) Azmi Saini mengatakan turut prihatin atas kondisi sejumlah situs bangunan bersejarah didaerah itu, bahkan menurutnya, apabila terus dibiarkan, kondisinya bakal terancam punah dan hilanglah bukti bukti peradapan sejarah didaerah mayoritas suku melayu setempat.

Selain Bangunan Istana Niat Lima Laras, katanya, batubara juga punya benda-benda pusaka semacam keris, tombak, tembikar, pedang, meriam dan bangunan Bunker jepang yang tersebar disejumlah desa di Kecamatan.

Khusus untuk bangunan Bunker Jepang, lanjutnya, terdapat di pinggir jalan didesa perupuk, bangunan yang berukuran tinngi satu meter lebar dan panjang dua meter itu kini kondisinya mulai nyaris rusak, sedangkan dua bangunan lagi diduga punah.

“Dulu bangunan bunker jepang didesa perupuk terdapat tiga bangunan, dua punah, dan sekarang tinggal satu, itupun kondisinya terlantar dan sama sekali tidak terawat,” Ujar Azmi kepada Detikpost di Tanjung Tiram, senin 13/03.

Apa penyebab tidak dirawatnya bangunan bunker itu oleh pemda setempat, menurut ia sendiri tidak mengetahui, namun lembaga yang dipimpinya terus berupaya untuk mencari terobosan baru dengan membuat proposal permohonan ke pemerintah pusat agar dapat memberikan anggaran pemugaran situs- situs sejarah didaerah.

“DKB sudah menyurati pemerintah pusat agar benda dan bangunan dari cagar budaya itu dirawat, dan Kabupaten Batubara diusulkan sebagai tempat untuk dibangunnya semacam gedung museum yang anggarannya ditampung oleh pemerintah pusat,” Jelas azmi.

Menurut ceritanya, bangunan Bunker jepang itu dibungun sebagai jalur masuk lewat pantai timur oleh tentara jepang. Kemudian Jepang berhasil menguasai indonesia, jepang kemudian berlanjut ke medan dan terus menguasai sejumlah bagian sumatera barat, padang. Namun akhirnya jepang kalah oleh masuknya belanda, kemudian indonesia kembali terjajah oleh Belanda.

Secara terpisah, Tokoh pejuang pemekaran Kabupaten Batubara Zulkarnain Achmad juga turut merasa prihatin atas tidak adanya pemugaran dan pembenahan terhadap situs- situs budaya yang ada Batubara, padahal menurutnya, sejarah itu tidak terlepas dari kewenangan pemerintah dalam pengelolaan sebagaimana dengan Amanat undang- undang nomor 5 tahun 1992.

Mimimnya perhatian pemerintah, menurutnya karena tidak adanya dorongan dari sejumlah lembaga pemerhati, sehingga pemerintah lupa atau bahkan lalai, padahal pelestarian dan pemeliharaan cagar budaya itu dapat memberikan kontribusi dari Aspek wisata secara ekonomi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) setempat.

“Bahwa perlu diingat, selain sektor perikana, pertanian dan perkebunan, sektor pariwisata juga menjadi sektor andalan dan berpotensi memberikan peluang besar bagi daerah, dan juga pihak swasta,” ungkap Zulkarnain Achmad. (Zul).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top