Metro

Sidak di Pabrik Makanan Beku ini, BPOM Banten Temukan banyak Kecoa

sidak BPOM Banten Foto: Ahmad Bil Wahid/detikcom
sidak BPOM Banten Foto: Ahmad Bil Wahid/detikcom

Tangerang – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Banten menemukan banyak kecoa di dalam gudang pembekuan makanan  beku milik PT Ruhuey. Selain banyaknya kecoa, ternyata pabrik PT Ruhuey tidak memiliki ijin oprasi dan edar

“Di tempat ini kita temukan produsen makanan yang tidak memiliki izin edar. Artinya mengedarkan makanannya melanggar ketentuan Badan POM. Bisa dikenakan pidana karena melanggar pasal 142 UU nomor 18 tahun 2012 tentang pangan dan bisa dikenakan pidana 2 tahun atau denda 4 milyar,” kata Kepala BPOM Banten, Muhammad Kashuri seperti yang dikutip dari detik.com di lokasi, Jl KH Mutaqin, Kelurahan Gembor, Periuk, Tangerang, Kamis (16/3/2017).

baca: Seperti Zombie, Sudiman Langsung mengamuk setelah terkena Matahari

Sudiman saat dievakuasi dinas kesehatan Simalungun karena menderita rabires stadium akhir

Sudiman saat dievakuasi dinas kesehatan Simalungun karena menderita rabires stadium akhir

Saat melakukan sidak, BPOM Banten menemukan berbagai jenis makanan kemasan dengan izin Depkes. Kashuri memastikan izin itu merupakan izin palsu yang digunakan perusahaan.

“Izin di kemasan sudah tidak berlaku jadi secara ketentuan hukum sudah tidak boleh digunakan lagi, karena konfirmasi ke dinkes mereka tidak mengeluarkan izin. Bisa juga izin tersebut belum dikeluarkan karena izin yang ada itu izin rumah tangga, dikeluarkan kalau memproduksi di rumah tangga tapi ini sudah terlepas bukan produk rumah tangga lagi. Sudah PT juga,” ujarnya.

Kashuri menambahkan, sidak ini berawal dari laporan masyarakat. Setelah ditindaklanjuti, pihaknya mendapati berbagai jenis makanan yang akan diedarkan dalam kondisi beku.

“Banyak macamnya, jenisnya makanan protein sayuran untuk vegetarian memang khusus produksinya produk dingin, kalau tidak diedarkan dalam kondisi dingin akan rusak,” ungkap Kashuri.

Terkait adanya kandungan berbahaya dalam makan di pabrik ini, dia belum bisa memastikan. Saat sidak dilakukan, pemilik pabrik juga tak ada di lokasi.

“Nanti kita konfirmasi dengan uji laboratorium. Tadi diuji dalam lab cepat ada dugaan mengandung bahan berbahaya tapi kita belum memastikan karena kita masih perlu pembuktian lagi secara uji lab lebih lanjut. Yang punya belum hadir nanti kita panggil pemiliknya ke kantor,” jelas dia.

BPOM Banten juga langsung menghentikan proses produksi di pabrik tersebut. Tindakan itu dilakukan hingga adanya izin resmi yang dikantongi perusahaan.

“Sebagai tindak lanjut tentunya kegiatan produksi kita hentikan sementara sampai yang bersangkutan harus mengajukan izin. Nanti kita lihat sarana produksinya apakah memenuhi aturan atau tidak,” sebut Kashuri.

Selain tak memiliki izin, pabrik itu juga menghasilkan produk makanan yang tak sesuai standar. Menurut Kashuri, ini terkait dengan kualitas kebersihan produk makanan beku tersebut.

baca: Mengamuk, Pasien Rabies ini pecahkan kaca Ruangan Isolasi

Sudiman pasien pengidap penyakit rabies mengamuk dan memecahkan kaca ruangan isolasi Rumah Sakit Rondahaim, Simalungun, kamis (16/3/2016)

Sudiman pasien pengidap penyakit rabies mengamuk dan memecahkan kaca ruangan isolasi Rumah Sakit Rondahaim, Simalungun, kamis (16/3/2016)

“Dari sisi sanitasi higienis, tidak memenuhi ketentuan. Kalau kita lihat tadi di gudang dan tempat produksi ditemukan banyak kecoa, aroma tidak sedap,” urai Kashuri.

Kondisi itu jelas saja tak memenuhi syarat produksi. Hal tersebut juga dianggap bahaya karena makanan dikonsumsi banyak orang.

“Tentunya tidak bisa memproduksi makanan seenaknya hanya seperti itu. Ada persyaratan yang harus dipenuhi. Ini dikonsumsi manusia loh, tentunya harus ada kriterianya,” sebut dia. (dtk)

Click to comment

Leave a Reply

Top News

To Top