Regional

Kenalkan, Liliana si Polwan Cantik muslim keturunan Tionghoa

Handover: Ipda Liliana Wijaya
Handover: Ipda Liliana Wijaya

Balikpapan –  Sosok Liliana Wijaya alias Lili tak kalah cantiknya dengan Bripda Ismi Aisyah yang sempat heboh saat bom panic beberapa waktu lalu. Selain cantik, Liliana meruapakan lulusan Akpol pada tahun 2011.

Saat ini, dara cantik kelahiran jepara tersebut merupakan Perwira utama (pama) berpangkat inspektur dua (ipda) yang bertugas sebagai Kanit Regident Polres Balikpapan Kalimantan Timur sejak awal tahun 2017.  Dengan hadirnya Liliana sebagai polwan, menambah etnis Tionghua yang menjadi anggota polri.

Handover: Ipda Liliana Wijaya

Handover: Ipda Liliana Wijaya

Seperti yang dikutip dari Metroonline.co, sebelumnya perwira lulusan Akpol tahun 2015 lalu ini, ditugaskan awal sebagai Kepala SPK Polres Balikpapan, dan kemudian menjabat Kanit Dikyasa Polres Balikpapan.

Handover: Ipda Liliana Wijaya

Handover: Ipda Liliana Wijaya

Di wilayah Polda Kaltim, anak kedua dari tiga bersaudara ini tercatat sebagai satu-satunya polwan muslim keturunan Tionghoa.

Lili dilahirkan di Jakarta dan dibesarin di Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Garis keturunan Tionghoa didapatkan Lili dari ibunya, Sri Astuti hang, yang lahir di Jepara dan dibesarkan di Sintang, Kalimantan Barat.

Baca: Polisi Ini Rela Mengajar Mengaji tapi Tak Digaji

Bripka Mukhlis Nasution saat mengajar mengaji kepada anak muridnya

Bripka Mukhlis Nasution saat mengajar mengaji kepada anak muridnya

Ayah dan ibu Sri (kakek dan nenek Lili) merupakan penduduk asli Sintang, yang kesehariannya menggunakan bahasa “Khek”. Sedangkan ayah Lili yang bernama Jonni Amidal yang asal dari Sumatera Barat.

Lili menceritakan hal menarik dari kedua orangtuanya ketika dulu hendak menikah. Kedua orangtuanya sangat susah bersatu, karena ibunya keturunan dari minoritas.

“Cerita Amoi (panggilan ibu saya) dulu susah menikah kalau berbeda etnis, namun akhirnya jadi juga,” ujarnya sembari tersenyum.

Lili mengaku, dirinya sejak kecil telah bercita-cita menjadi polisi. Makanya, selulus SMA 1 Jepara 2010, dia langsung mendaftar calon polisi.

Setelah nengikuti serangkaian tes, dia akhirnya lolos. Namun, kala itu penentuan kuota dilakukan secara nasional. Lili pun gagal, dan sempat down dalam kesedihan. Bahkan ibunya juga turut sedih.

“Saya baru kali pertama lihat ibu nangis, ya waktu itu,” kata Lili dengan mata berkaca-kaca.

Namun, setelah beberapa bulan kemudian, kesedihan mulai pudar. Dia pun terus berlatih dan mempersiapkan diri untuk mendaftar kembali pada tahun 2011. Akhirnya, berkat tekad dan usaha yang gigih, Lili meraih urutan satu nasional penerimaan Akpol.

Baca: Tidak Mau Jadi Peminta, Kakek ini Jualan Mainan Keliling Setiap Hari

Kek Balon tampak khusuk berdoa, disela istirahat ia menjual mainan

Kek Balon tampak khusuk berdoa, disela istirahat ia menjual mainan

“Allah memuluskan proses pendaftaran hingga mengikuti serangkaian pendidikan dan akhirnya lulus pada tahun 2015,” kenang dia.

Keberhasilan ini yang membuat keluarga besarnya bangga terhadap Lili. Selama pendidikan, tak hanya dirinya (Taruni/Sebutan siswi Akpol) yang keturunan Tionghoa.

“Tidak ada minoritas, semua diperlakukan sama,” terangnya.

Bahkan, pemilik gelar STK ini pernah dipercayakan untuk menjadi Danton, dan membentuk Korps China.

Dalam waktu dekat, dia akan melanjutkan pendidikan S-2 bidang transportasi di Leeds University, Inggris.

“Kebetulan ada beasiswa, saya mengurus dan alhamdulillah lolos,” katanya.(srk/Metroonline)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top