Penyebab Pertengkaran dan Solusinya

oleh
ilustrasi: Bertengkar dengan pasangan
ilustrasi: Bertengkar dengan pasangan

Bagi kamu yang telah memiliki pasangan, pertengkaran jelas sesuatu yang pasti hadir dan tak mudah untuk dihindari. Bahkan ada yang bilang kalau pertengkaran adalah bumbu dalam kehidupan berumah tangga. Namun pertengkaran seperti apa sih yang bisa kita sikapi dengan bijaksana?

Berikut akan kita ulas lebih dalam tentang pertengkaran yang sering terjadi antara 2 insan manusia yang jelas berbeda ini.. .

1. Peyebab Pertengkaran

Hal apapun itu dari yang kecil, yang sangat sepele sampai hal besar bisa jadi bahan pertengkaran. Tapi penyebab lebih pasti munculnya pertengkaran antara lain:

  • Perbedaan Pendapat
    Sampai kapanpun dan siapapun pasti selalu berbeda pendapat. Sudah hukum alamnnya, karena kita diciptakan juga berbeda.
  • Rasa Kesal yang Dipendam
    Kadang salah satu pihak kukuh dengan pendiriannya. Disaat yang bersamaan juga pihak tersebut (cewek atau cowok) memilih untuk mengalah. Namun, rasa mengalah ini ada sabarnya dimana sabar juga ada batasnya. Semakin lama rasa tersebut pun dipendam hingga akhirnya hal ini jadi pemicu pertengkaran.
  • Kritikan
    Ketika pasangan mulai mengkritik satu sama lain, disinilah mulai terjadinya benih pertengkaran. Ada yang berpendapat kalau kritik mampu menghancurkan karakter seseorang. Tapi saat ini orang salah menilai dimana kritikan dan komplain adalah satu hal yang sama, padahal tidak.
  • Menyimpan Beban Emosional
    Maksudnya disini adalah menyatakan suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan. Singkatnya, ini pengalaman masa kecil anda yang masih sering anda simpan hingga dewasa bahkan sampai menikah.

2. Cara Mengatasinya

  • Mengatasi perbedaan pendapat adalah dengan saling terbuka dengan pasangan. Coba duduk bersama secara santai seperti obrolan biasa, membicarakan tentang pendapat yang berbeda-beda itu. Maka anda dengan segera mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai pasangan, apa kebiasaan baik dan jeleknya, dan hal –hal lain yang terdapat sisi positif dan negatif. Anda harus menerima apapun itu. Pasangan yang terbaik adalah saling mengisi tanpa mengkritisi.
  • Rasa kesal yang hadir pasti selalu ada karena banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Bisa bermula dari tempat kerja, sekitar tempat tinggal, cita-cita (target) yang ingin dicapai, dll. Perasaan tersebut sering juga menghantui disetiap jalannya hubungan. Tidak heran rasa kesal bisa berimbas pada hubungan. Ada tingkah laku yang aneh yang bisa anda lihat dari pasangan yang tidak seperti biasanya. Namun sebagai pasangan yang bijaksana, coba tanyakan padanya, ada apa? Coba dengarkan setiap masalah yang menimpanya. Katakan padanya jangan memendam kekesalan sendiri. Coba berkomunikasi lebih dalam. Jika disela-sela itu dia marah, jangan ditanggapi dengan kemarahan juga. Kalau memang keadaan semakin meruncing, coba untuk diam sejenak dan tunggu waktu yang tepat lagi untuk membicarakannya.
  • Kritikan(Criticism) dan Complaint(Komplen) itu jelas berbeda. Tapi hampir setiap orang beranggapan sama.

Contoh kritik: “Kenapa sih kamu selalu egois? Saya capek harus masak tapi akhirnya dibuang juga! Harusnya kamu bilang dari awal kalau mau makan diluuar!”

Contoh Komplen: “Seharusnya kamu biilang kalau sudah makan…, jadi saya tidak usah repot masak”
Nah, 2 contoh kalimat diatas jelas berbeda ‘kan?

Tentang poin terakhir ini, sebenarnya anda cukup dengan tidak mengingat-ingat lagi masa lalu. Memang terkadang itu muncul sesaat setelah pertengkaran, anda seperti merasa tidak dihargai atau dicintai lagi oleh pasangan anda. Tapi ya sudahlah, yang berlalu biarlah begitu. Jangan dikaitkan dengan apapun. Kedewasaan berpikir sangat dibutuhkan disini.

Seberapa sering datangnya pertengakran dalam kehidupan sehari-hari, tetap tak bisa dihindari tapi tetap harus mencari solusi. Intinya yang diperlukan adaah niat untuk menyelesaikan masalah.

Manusia dewasa yang pernah bertengkar sebenarnya juga punya sifat-sifat alami seperti Bijak, maksudnya adalah tidak menghindari masalah yang datang tapi menghadapinya.

Bersikap Objektif (bersedia mengakui kesalahan diri) dan Terbuka (menyampaikan apa yang suka/tidak suka kepada pasangan). Akhirnya, jika pasangan sudah tidak bisa diajak kompromi, segeralah berkonsultasi kepada ahlinya seperti Psikolog atau Psikiater.