Survei Cigna, Saat ini Masyarakat Indonesia berjuang meningkatkan kesejahteraan

oleh
Infographic Survei Skor Kesejahteraan 360°
Infographic Survei Skor Kesejahteraan 360°

JAKARTA – PT Asuransi Cigna (Cigna Indonesia) hari ini mengumumkan hasil Survei Skor Kesejahteraan 360° di Indonesia. Survei ini menunjukkan turunnya skor kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia karena faktor finansial.

Skor kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia turun cukup signifikan di tahun 2016, meskipunmasih berada di batas rata-rata skor internasional. Dari 13 negara, Indonesia berada di posisi ke-6 dengan skor 62,8; sedikit di bawah Uni Emirat Arab (63,1), namun lebih tinggi dibandingkan Britania Raya (60,8), Singapura (59,4), dan Hong Kong (58,6).

Survei Skor Kesejahteraan 360° merupakan survei tahunan yang diadakan oleh Cigna untuk membantu masyarakat di negara tempat Cigna beroperasi memahami persepsi mereka sendiri mengenai kesehatan dan kesejahteraan. Skor ini dinilai berdasarkan 5 pilar utama, yakni fisik, finansial, pekerjaan, keluarga dan sosial.

“Survei Skor Kesejahteraan 360° sudah dua kali dilakukan di Indonesia. Kami melakukannya sebagai upaya menjadi perusahaan yang berfokus kepada nasabah, serta untuk melihat persepsi masyarakat Indonesia secara keseluruhan mengenai kesehatan dan kesejahteraan,” ujar Herlin Sutanto, Presiden

Direktur Cigna Indonesia dalam acara konferensi pers Survei Skor Kesejahteraan 360° di Jakarta mengatakan, misi Cigna adalah membantu orang-orang yang kami layani meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan rasa aman mereka.

“Untuk mewujudkannya, kami merasa perlu untuk terus memperbaharui pengetahuan kami mengenai hal-hal yang bermakna bagi masyarakat Indonesia, dan apa yang menghalangi mereka dalam meraih impian hidup. Menurut survei ini, persepsi masyarakat Indonesia terhadap kesehatan dankesejahteraan mereka turun cukup signifikan karena faktor financial,” ucapnya

Sejak survei ini dilakukan pertama kali di Indonesia pada tahun 2015, kondisi keuangan masih menjadi tantangan utama bagi masyarakat Indonesia. Skor finansial masih menempati urutan terbawah dibandingkan aspek kesejahteraan lainnya seperti pekerjaan dan kesejahteraan sosial.

Tantangan inilah yang kemudian menjadi alasan utama mengapa mayoritas responden semakin tidak percaya diri dalam menjamin kesehatan dan kesejahteraan keluarga mereka. Survei ini menunjukkan bahwa hanya 24% responden yang bisa memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga mereka, dan hanya 21% yang bisa membantu kondisi keuangan orang tua mereka.

Selain itu, meskipun jumlah masyarakat usia produktif di Indonesia cukup besar, banyak di antara mereka yang terjebak dalam kondisi ‘generasi sandwich’. Mitos yang awam di kalangan masyarakat Indonesia adalah ‘banyak anak, banyak rejeki’, sebuah anggapan yang memberikan asumsi bahwa, begitu memasukiusia produktif, anak-anak harus menyokong hidup orang tua mereka secara finansial.