Evolusi HP serta Perubahan Visi Misinya

oleh

Sebagaimana kita ketahui kalau sosial media dengan berbagai nama menawarkan pertamanan secara luas, menjangkau seluruh lapisan, melintasi batas suku, agama, ras, kota bahkan dunia. Dengan hasil yang, ya bisa dilihat saat ini. Semua hal tersebut menjadikan manusia seperti terkungkung dalam penjara tapi tanpa terali besi. Hp menjadi tidak bisa lepas dari genggaman. Pulsa atau kuota adalah syarat mutlak keberlangsungan hp-hp itu. Charger atau Powerbank menjadi jiwa raga dan nafas kehidupannya.

Perubahan fungsi dimana menelepon dan sms-an bukan jadi yang utama. Masih layakkah disebut hp?. Entahlah! Masih juga disebut hp sampai detik ini. Istilah Gadget yang lebih kekinian, disebutkan untuk keberadaan hp saat ini mengacu hanya kepada dunia maya sehari-harinya

Misal, pemandangan sekelompok anak remaja, dewasa bahkan paruh baya, ibu-ibu, bapak-bapak yang seperti tak mau kalah dengan anaknya, sama. Adalah dunia maya yang menyatukannya, sosial media tempatnya. Siapa saja yang mempunyai barang wajib ini benar seperti namanya, telepon genggam. Terus digenggam, hampir tidak pernah lepas. Setiap saat melihatnya. Tak tahu apa yang dilihat, ya urusannya. Sudah menjadi suatu kewajiban layaknya makan. Kenyataan, bukan kiasan. Laporan Nokia pada MindTrek ditahun 2010 saja mengatakan bahwa, rata-rata orang mengecek/melihat hp sekitar 150 kali dalam sehari.
Ada apa ini?

Salah satu dari bentuk produk betapa canggihnya hp, sosial media, tapi tidak juga mengartikan sosialisasi itu sendiri. Banyak teman didunia maya, tapi tak punya teman sejati didunia nyata. Teknologi informasi yang kian canggih berujung pada fitnah dan aib yang makin tersebar. Suatu hasil yang mengalami kemunduran kualitas manusia, jauh seperti hp yang menatap kemajuan. Seperti sebab akibat yang sayangnya memang seperti itu sekarang.

Menonton konser dengan tiket jutaan rupiah seperti tidak berarti apa-apa, tidak benar-benar dinikmati layaknya tontonan berharga, karena sibuk dengan hp nya. Merekam suasana, selfie-selfie saja. Mengapa? Selalu tak mau absen eksis, langsung upload-upload kesana-sini. Dimana esensi dari menonton konser itu sendiri? Mau makan seperti layaknya makan saja harus difoto-foto. Bukan mendahulukan doa. Manusia saat ini seperti lambat tapi pasti melupakan kebiasaan manusiawinya.

Akhirnya, kita harus kembali lagi ke sifat manusia itu sendiri untuk melihat bahwa segala sesuatunya pasti ada sisi postif dan negatifnya. Kalau pun hp yang banyak sisi negatifnya, tapi layaknya kita juga harus melihat sisi positif, kembali keawal lagi untuk hidup yang lebih baik nanti