Diskusi Cipayung, Dari Tahun ke Tahun tak Ada Pengawasan APBD Labuhanbatu

oleh

SUARAKITA.CO.ID, Rantauprapat – Kelompok Cipayung Labuhanbatu gelar Diskusi Umum jumat malam di gedung KNPI Labuhanbatu. Dalam diskusi tersebut, mengangkat tema peran DPRD dalam mengawal dan mengawasi APBD.

Dalam diskusi  kelompong cipayung yang terdiri dari HMI, GMNI, dan PMII itu turut menghadirkan Anggota DPRD Labuhanbatu sebagai pemateri, Budiono, Lukmanul Hakim, Saiful Sirait, dan Ade Parlaungan Nst sebagai pembanding.

Budiono, saat memaparkan pandangannya mengatakan, pengawasan terhadap APBD labuhanbatu dari tahun ketahun praktis tidak ada.

“kita bisa merasakan betapa pemerintah eksekutif dalam hal ini seperti tidak terawasi, pemilu legislatif  2014 itu menghasilkan legislatif terburuk banyak partai yang ujuk-ujuk seperti kekurangan caleg  sehingga tidak semua partai kemudian mendahulukan kader-kader partai yang memang terdidik, ini fakta labuhanbatu, sehingga pengawasan terhadap APBD dari tahun ketahun nyaris tidak ada”, ucapnya.

Anggota DPRD Labuhan Batu dari fraksi Gerindra menjelaskan hal tersebut bisa ditandai dengan APBD sebelumnya, berapa angka yang dirancangan begitulah yang disahkan seperti tidak ada pembahasan.

Senada juga disampaikan oleh Lukmanul Hakim dari komisi c fraksi Golkar. Menurutnya, saat ini banyak kegiatan pemerintah banyak tidak masuk akal.

”mengenai pengawasan APBD labuhanbatu 2018 , kita prihatin dengan kondisi pada saat sekarang ini. Dalam menjalankan pemerintahan kita prihatinlah, banyak kegiatan-kegiatan yang kita lihat tidak masuk aka,”’ ucapnya.

Sedangkan, Saiful Sirait yang merupakan fraksi PBB, dalam pandangannya mengatakan saat ini harus disadari bahwa diluar dari DPRD mengatakan salah satu jalan memfinalkan pengawasan adalah partai harus siap melepas kadernya saat di DPRD

“Saya pernah berasumsi berani nggak Partai itu melepas kadernya ketika di DPRD, saya pikir ini salah satu jalan memfinalkan pengawasan tanpa tekanan partai, disini permasalahannya sebenarnya” Ucapnya.

Sementara itu Ade Parlaungan, yang merupakan koordinator Akademik Y-ULB mengatakan, dari hasil diskusi tadi, maka dapat disimpulkan bahwa saat ini, legislatif seperti tersandera oleh eksekutif .

Ia juga berharap diskusi-diskusi mahasiswa harus berkesinambungan.

“diskusi seperti ini harus sering dilakukan secara rutin, jangan sampai ini menjadi pertemuan pertama dan terakhi” ucapnya. (QS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *