Ironi Warga Asmat, Ikan Segar ditukar dengan Mie Instan

oleh
seorang anak dari suku asmat saat mendapatkan perawatan
seorang anak dari suku asmat saat mendapatkan perawatan

SUARAKITA.CO.ID, ASMAT – Hanya ada perahu bermesin motor dan kapal sampan kayu tradisional (kole-kole) yang menjadi satu-satunya alat transportasi di Kabupaten Asmat.

Untuk menembus satu kampung ke kampung lainnya, tak ada motor apalagi mobil. Sebab, jalan yang ada hanya hutan-hutan dengan jalur sungai yang membelah dan menghubungkan tiap kampung.

Perjalanan memang sulit, tapi ikhtiar Aksi Cepat Tanggap untuk merespons Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Asmat harus tetap berjalan.

Setelah Sabtu sore (20/1) kemarin tiba di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, tim Emergency Response ACT langsung menyiapkan bantuan paket gizi. Bantuan bahan makanan padat gizi disiapkan untuk menyuplai kebutuhan dapur umum yang sudah disiagakan sebelumnya oleh Pemerintah Daerah Distrik Agats.

Tak berhenti sampai di situ, Senin (22/1) aksi kembali dilanjutkan. Ada perjalanan panjang menggunakan perahu bermesin motor (speedboat) untuk menjangkau beberapa distrik tetangga Agats.

Meski bersebelahan dengan Agats, distrik lain yang terdampak KLB campak dan gizi buruk tetap sangat sulit dijangkau. Jalur transportasi keluar-masuk hutan dan menyusuri sungai-sungai menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjangkau kampung-kampung di distrik lain sekitar Agats.

Sejak pagi, perjalanan sudah dimulai. Nurjannatunaim, salah satu anggota Tim Emergency Response ACT di Asmat mengatakan, seharian penuh timnya menempuh dua kabupaten yang letaknya lebih pelosok dari Distrik Agats.

Facebook Comment