Ironi Warga Asmat, Ikan Segar ditukar dengan Mie Instan

oleh
seorang anak dari suku asmat saat mendapatkan perawatan
seorang anak dari suku asmat saat mendapatkan perawatan

“Kami memulai perjalanan sejak pagi sekali. Rute kami pertama sampai ke Distrik Siret, lalu ke Distrik Suator paling jauh dari Agats. Perjalanan menggunakan speedboat paling cepat 2 sampai 3 jam,” tutur Nur di Agats, Senin (22/1) pagi.

Ikan yang ditukar dengan mi instan di Distrik Siret

Dari Agats, perjalanan menyusuri sungai butuh dua jam lebih sampai tiba di deretan rumah-rumah panggung di Distrik Siret. Kami, Tim Emergency Response ACT bertemu dengan Kepala Desa setempat. Kami mendapat kabar, anak-anak di Distrik Siret termasuk paling banyak terdampak KLB campak dan gizi buruk.

Ketua Tim (KATIM) Posko Kesehatan KLB Campak & Gizi Buruk Kabupaten Asmat, Septian Herpriyono, mengatakan, beberapa hari sebelum kedatangan Tim ACT, Pemda bersama TNI dari Agats sudah membawa sejumlah anak gizi buruk untuk ditangani di RSUD Agats.

“Akan tetapi, kemudian kami mendengar kabar lanjutan salah satu anak menderita campak dirawat di Puskesmas Yaosakor. Kami menilik ke puskesmas. Anak ini badannya tampak panas, satu keluarga menunggu si anak sepanjang hari. Tak lupa kami memberikan bantuan paket gizi untuk anak ini, semoga membantu pemulihan badannya,” ujar Nur.

Dari Yaosakor, mesin motor speedboat kembali meraung. Tim Emergency Response ACT kembali bergerak menuju ke Kampung Waganu, masih di Distrik Siret. Di Kampung Waganu, masalah gizi buruk pun merebak luar biasa beberapa pekan terakhir.

Nur menceritakan, pengetahuan akan makanan bergizi belum tuntas tersampaikan di Kampung Waganu, Distrik Siret. Kebiasaan konsumsi harian masyarakat lokal Waganu sepertinya terpengaruh dengan gaya hidup pendatang yang datang masuk ke kampung ini.