Connect with us

Metro

OK Arya Terancam Empat tahun penjara

Bupati Batubara Nonaktif berinisil, OK Arya Zulkarnaen saat diamankan KPK beberapa waktu lalu

Suarakita.co.id, Medan – Terdakwa Bupati Batubara Nonaktif berinisil, OK Arya Zulkarnaen dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, HH terancam empat tahun hukuman penjara terkait kasus menerima uang proyek senilai Rp3,7 miliar tahun anggaran 2017 dari rekanan

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Hariawan Agusti Tiartono, dalam dakwaannya di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (5/2/2018) menyebutkan kasus suap tersebut diterima kedua terdakwa tersebut, dari rekanan Maringan Situmorang dan Syaiful Azhar (sidang terpisah).

Maringan, menurut Jaksa, memberikan satu lembar cek Bank Sumut Nomor CJ 561633 senilai Rp 1,5 miliar, satu lembar cek Bank Sumut Nomor CJ 560012 senilai Rp1,5 milar dan uang sebesar Rp700 juta kepada Bupati Batubara.

Uang tersebut diserahkan melalui Sujendi Tarsono (pengusaha dealer mobil) agar terdakwa melakukan pengaturan dalam proyek di Dinas Pekerjaaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Batubara.

Seperti yang dilansir dari Antara, jaksa mengatakan, proyek tersebut merupakan pembangunan jembatan Sei Magung di Kecamatan Medang Deras dan proyek pembangunan jembatan Sentang di perbatasan Kelurahan Labuhan Ruku menuju Desa Sentangagar, Kabupaten Batubara.

Sedangkan, konraktor Syaiful Azhar menyuap Bupati Batubara sebesar Rp400 juta.

Uang tersebut, diserahkan melalui terdakwa HH, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Batubara, sehingga Syaiful mendapatkan pekerjaan proyek lanjutan peningkatan Jalan Labuhan Ruku menuju Mesjid Lama Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara TA 2017.

Pemberian uang berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, yakni sebagai pemberian imbalan (fee) karena Bupati Batubara memberikan persetujuan terhadap pengaturan proyek di Dinas PUPR Kabupaten Batubara merupakan pelanggaran hukum.

Kedua terdakwa, OAZ dan HH, melanggar Pasal ?12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Juncto Pasal 65 KUH Pidana, kata Jaksa.

Sidang kasus suap proyek yang dipimpin Majelis Hakim yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo, dilanjutkan Senin depan (12/2) untuk pemeriksaan sejumlah saksi-saksi. (ant)

Facebook Comment
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Metro

Kasihan, di masa tuanya Pensiuanan TNI ini Malah Digugat Anaknya Sendiri

Achmad Tjakoen Tjokrohadi (97) purnawirawan TNI berpangkat Letnan Kolonel yang digugat puteri kandungnya sendiri. Foto iNews TV/Deny I
Achmad Tjakoen Tjokrohadi (97) purnawirawan TNI berpangkat Letnan Kolonel yang digugat puteri kandungnya sendiri. Foto iNews TV/Deny I

Suarakita.co.id, MALANG – Ironi di masa tuanya, pensiunan TNI berpangkat Letnan Kolonel ini, digugat anaknya sendiri di Pengadilan Negeri Kota Malang.  Gugatan tersebut terkait kepemilikan rumah milik Achmad Tjakoen Tjokrohadi  (97)

Seperti yang dilansir dari SindoNews.com, Ani Hadi Setyowati sang anak yang menggugat ayahnya tersebut ini sudah 2 kali dinyatakan kalah oleh pengadilan agama hingga terakhir putusan Mahkamah Agung. Namun sang anak tak puas dan kini gugatan hukum kembali dilayangkan untuk orang-orang terdekatnya ini.

Ani Hadi Setyowati merupakan anak ke-empat dari tergugat yang merupakan ayah kandungnya sendiri Achmad Tjakoen Tjokrohadi. Padahal Achmad Tjakoen Tjokrohadi kini sudah nampak lemah karena usia tuanya.

Di masa tuanya pensiunan TNI Angkatan Darat ini malah terusik dengan masalah pelik yang dialaminya.

Bagaimana tidak sejak tahun 1997 kasus persidangan antara dirinya dan anak ke-empatnya ini sudah berlangsung tiga kali.

Pertama Pengadilan Agama Kota Malang memutuskan gugatan perkara pembatalan Akta Hibah Nomor 1000/Pdt.G/2011/Pa.Mlg pada 17 Juni 2011 lalu yang diajukan oleh Achmad Tjakoen Tjokrohadi  terhadap akta tanah dan rumah di Jalan Diponegoro Nomor 2, Kota Malang.

Hingga berdasar keputusan itu, Tatik alias Ani Hadi Setyowati anak ke-empatnya mengajukan peninjauan kembali (PK) ke hingga Kasasi di Mahkamah Agung, namun kembali kasusnya dimenangkan sang ayah Achmad Tjakoen Tjokrohadi.

Sebelumnya1 of 2

Facebook Comment
Continue Reading

Metro

Sepasang Kekasih ini Gagal Rayakan Valentine, Ditangkap Polisi Saat Sedang konsumsi Sabu

Biston Tarigan (39) dan Amelia Rahma alias Amelia (20) saat diamankan di Mapolsek Sunggal.
Biston Tarigan (39) dan Amelia Rahma alias Amelia (20) saat diamankan di Mapolsek Sunggal.

Suarakita.co.id, MEDAN – Biston Tarigan (39) dan Amelia Rahma alias Amelia (20) gagal memadu kasih saat hendak merayakan hari valentine.  Keduanya diamankan polisi dari Hotel Melala yang berada di kawasan Jalan Medan-Binjai, Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Keduanya ditangkap unit reskrim Polsek Sunggal dari satu kamar hotel Melala hendak sedang mengkonsumsi sabu sebelum memadu kasih. Dari tangan keduanya diamankan satu paket sabu dan alat hisap sabu

Kapolsek Sunggal, Kompol Wira Prayatna mengatakan, penangkapan keduanya berawal adanya laporan dari masyarakat. Mendapat informasi tersebut, pihaknya langsung melakukan pengintaian di hotel tersebut.

“Mereka diamankan dari kamar nomor 30, saat pintu didobrak keduanya sedang asik mengkonsumsi sabu,” ucapnya

Saat ini keduanya masih dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui dari mana keduanya membeli sabu.

“Kalau yang pria mengaku sudah dua tahun ini mengkonsumsi sabu. Alasanya untuk menambah stamina,” ucapnya (BS)

Facebook Comment
Continue Reading

Metro

Heboh Penghasilan Pengemis ini, Bisa Beli Mobil Mewah. Segini Besaran Pendapatannya setiap Bulan

Suarakita.co.id, Bontang – Ternyata menjadi seorang pengemis mempunyai penghasilan menggiurkan.  Dalam sehari seorang pengemis bisa mendapatkan penghasilan ratusan ribu.

Seperti yang dilakoni kek Addul yang kini berusia 78 tahun. Ketika diamankan oleh satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP Pemkot Bontang di kawasan Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan, dirinya mengaku berpenghasilan Rp 600 ribu perhari. Bila dikalikan, dalam sebulan kakek dari Madura tersebut bisa menghasilkan uang  Rp 18 Juta.

Sedangkan biaya hidup yang dikeluarkannya setiap bulan, berkisar Rp 4 juta. Berarti setiap bulannya ia bersih mengantongi uang Rp 14 Juta. Kira-kira bisa buat beli apa ya?

Dengan megandalkan uang penghasilannya selama sebulan, setiap bulannya dia bisa membeli satu unit motor, baik baru ataupun bekas. Sedangkan bila ia menabungkan uangnya selama dua tahun, kek Adul juga bisa bisa langsung beli cash Honda HR-V 1.5 S CVT seharga Rp 283,5 juta., bisa juga beli cash Honda Jazz RS CVT seharga Rp 274 juta.

Sedangkan kalai mau berkesan mewah, ia juga bisa beli sedan Toyota Vios G M/T seharga Rp 295 juta. Sedangkan untuk MPV, ada pilihan Toyota Sienta 1.5 Q CVT Rp 299,9 juta.

Besar juga ya, penghasilannya dari meminta-minta. Banyak barang yang bisa dibelinya, sayangnya sebelum barang-barang diatas bisa dibelinya, Kek Addul sudah keburu ditangkap satpol PP Pemko Bontang

Kasi Operasi dan Pengendalian, Satpol PP Bontang, Sunaryo mengatakan,  kek Addul tersebut mengaku sudah sejak beberapa bulan ini mengemis. Setiap dua bulan sekali, setelah mengumpulkan uang dari mengemis, dia pun kembali ke kampungnya di Madura.

“Setelah uangnya dihabiskan, dia (kek Addul) kembali lagi ke Bontang. Dia pulang pergi naik pesawat,” jelasnya

Penangkapan terhadap Addul sebutnya ketika ia curiga gerak-gerik kek Addul yang sering ditemui petugas masuk ke pemukiman warga. Dari kecurigaan itu, pihaknya, menurunkan petugas berpura‑pura sebagai warga sipil dan membuntuti kakek Addul.

“Ketika dia beraksi, anggota langsung menangkap kek Addul, tapi sempat dihalangi warga,” ucapnya

Kek Addul sebutnya sempat melakukan peralawan ketika diamankan, karena sempat meneriaki anggota satpol PP maling. Warga yang mendengar teriakkan tersebut, sempat akan menghakimi anggotanya.

“Saat diamankan dia teriak, kumpullah warga. Untung anggota sigap dengan menunjuk surat tugasnya

Taktik petugas ini pun berhasil mengecoh Addul. Pelaku yang tak sadar tengah dipantau, segera diringkus saat menjalankan aksinya di Tanjung Laut. “Anggotanya curiga, karena setiap patroli, kakek ini sering ditemui di jalan,” tuturnya.

Upaya penangkapan Addul sendiri sempat dihalangi warga. Pasalnya, saat diamankan, Addul, sontak  berteriak meminta pertolongan. Warga disekitar lokasi yang mendengar Addul langsung merapat, dan nyaris menghakimi petugas yang tengah menyamar. Beruntung, petugas dengan sigap menunjukan identitas dan surat tugas, akhirnya warga mengurungkan niat mereka.

“Saya sempat diteriaki maling sama dia (Addul‑Red), langsung saya tunjukkan kartu identitas dan surat tugas,” katanya. (*)

Facebook Comment
Continue Reading

Trending