Singapura Penyumbang Impor Bahan Baku Cukup Signifikan

oleh
Singapura Penyumbang Impor Bahan Baku Cukup Signifikan
Pengamat ekonomi Sumut, Gumawan Benyamin.

Suara Medan – Defisit neraca perdagangan yang terjadi selama 3 bulan berturut-turut memang perlu mendapatkan perhatian khusus. Karena dalam banyak kasus di dunia kerap defisit neraca tersebut dikaitkan dengan pertanda adanya kemungkinan penurunan kinerja perekonomian. Demikian dikatakan Pengamat Ekonomi Sumut, Gumawan Benyamin kepada suarakita.com hari ini.

“Bahkan di beberapa negara indikator tersebut digunakan sebagai adanya kemungkinan terjadi krisis,” katanya.

Dia menambahkan sehingga banyak yang menyimpulkan bahwa defisit neraca perdagangan kerap membuat perekonomian kita dalam kondisi memburuk. Tentunya hal tersebut tidak semuanya benar. Terlebih berbicara ekonomi Indonesia. Di Indonesia, ekonominya itu diputar sebagian dengan menggunakan sumber daya dari luar. Sehingga tidak semuanya tersedia di sini.

“Sebagai contoh, barang modal seperti mesin, itu banyak yang tidak mampu dihasilkan di negara kita. Alhasil kita harus membelinya dari negara lain. Demikian halnya juga dengan bahan baku. Sejumlah bahan baku kimia untuk industri kita didatangkan dari negara lain. Singapura menjadi salah satu negara penyumbang impor bahan baku yang cukup signifikan,” paparnya.

Jadi begini, seorang pengusaha yang mau memproduksi barang di Indonesia, terpaksa harus menyediakan barang modal (mesin) dari luar, dan bahan bakunya dari luar. Namun proses produksinya da di Indonesia. Hal tersebut memicu terjadinya defisit. Hal inilah defisit yang sebenarnya memberikan nilai tambah bagi perekonomian kita.

“Sekalipun defisit, tetapi produksinya berjalan, menyerap tenaga kerja, memproduksi barang yang bisa dijual. Berbeda dengan defisit barang konsumsi. Di mana kita membeli barang yang tidak memberikan nilai tambah. Misal kita membeli pakaian dari luar, sehingga pakaian tersebut hanya kita pakai, tanpa bisa menyerap tenaga kerja atau memberikan nilai tambah,” tegasnya.

Nah ! dari total keseluruhan masalah defisit, yang paling penting itu adaah defisit neraca pembayaran. Jadi kita harus mempertimbangkan lalu lintas modal bukan haya di perdagangan. Tetapi investasi di pasar modal, aliran modal usaha ke sektor rill, atau juga aliran modal di pasar keuangan. Nah di tengah realisasi defisit neraca perdagangan saat ini.

Dia menegaskan terjadi tekanan pada pasar saham kita yang terlihat dari posisi net sell asing belakangan. Ditambah lagi dengan tren membaiknya yield surat berharga di AS yang memicu terjadinya capital outflow. Masalahnya ada di ekspektasi kenaikan suku bunga AS kedepan. Jadi memang sebaiknya pengelolaan neraca pembayaran dalam jangka pendek menjadi skala prioritas,” tambahnya.

“Jangan sampai indikator di neraca perdagangan juga merembet ke masalah neraca pembayaran. Memanga da ketidakpastian di perekonomian AS yang membuat kita juga kesulitan menjaga salah satu indikator ini. Dan sayangnya belakangan US Dolar menguat sehingga memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang di dunia tanpa terkecuali mata uang rupiah,” tambahnya.